Perjalanan Pembuktian Naskah Kuno Menuju Link ke Masa Lampau dalam Balutan Budaya
Hai perkenalkan namaku
Haliza Eka Octaviani dedare Lombok suku sasak tulen, sebagai seorang anak muda yang
mencintai kebudayaan dan kearifan lokal, pada
minggu 20 oktober 2019 aku bersama tiga orang temanku yang juga pecinta budaya berinisiatif
mendatangi seorang budayawan yang biasa kami panggil beliau mamiq sadar atau
nama budaya beliau Ki Ageng Sadarudin Jelantik menggemari naskah kuno sejak
tahun 2000 yang beralamat di kekalik jaya. Alhamdulillah beliau menyambut
kedatangan kami dengan senang hati. Senang rasanya kami dapat mengunjungi seorang budayawan
sasak seperti beliau yang memberi kami banyak ilmu khususnya dalam bidang
naskah kuno.
Beliau
banyak bercerita tentang naskah kuno yang beliau miliki seperti :
Yang
pertama, Naskah Kuno Rengganis yang bercerita upaya manusia mengetahui
diri,mengenal diri, tuhan, proses hidup
dan tareat.
Yang kedua,
Naskah kuno labangkare, yang bercerita tentang Panjian, jika di jelaskan
intinya ada seorang pemuda yang di titahkan mengambil obat ke lapis langit
ketiga.
Beliau
juga menjelaskan tentang jenis-jenis bahasa kawi, ada Kawi tengahan, jawa, sansekerta, jawa kuno, yang prosesnya
diserap, di olah, dan di pelajari. Pengetahuan yang sangat baru bagiku pribadi
tentang semua itu . Akan tetapi beliau juga bercerita naskah-naskah kuno yang beliau
miliki kebanyakan naskah serat menak
bercerita tentang pewayangan hikayat Amir Hamzah.
Setelah dirasa perbincangan cukup
panjang tentang kebudayaan, kami akhirnya berpamitan untuk pulang. Karena kami
datang ke kediaman beliau sudah sangat sore juga sehingga kami pulang juga
hampir maghrib. Namun kami menemukan informasi dan pembelajaran tentang naskah kuno yang sangat bermanfaat.
***
Kemudian pada senin 21 oktober 2019
aku bersama beberapa teman pecinta budaya dan kearifan lokal melakukan
perjalanan lagi ke kediaman seorang budayawan sasak tepatnya di daerah Pagutan Terong Tawah.
Seorang yang sudah di didik sejak kecil oleh ayahnya untuk menjaga kebudayaan
sasak khususnya dalam bidang naskah kuno dan benda pusaka yang berupa keris
dan pedang itu bernama mamiq udin atau nama panjang beliau Reka Syamsudin.
Beliau bercerita bahwa beliau keturunan dari kerajaan bayan. Alhamdulillah
beliau menyambut kami dengan senyuman terbaiknya
dalam pikiranku beliau terenyuh senang karena masih ada anak muda yang ingin
mendalami betul adat dan budaya sasak.
Kemudian beliau memulai membuka sebuah
naskah dan menembangkan salah satu yang berjudul Serat Centini yang
bercerita tentang tasawuf, tarekat, dan ketauhidan. Serat yang berarti surat dan
centini yang berarti cara/kebiasaan seorang anak manusia.
Puas dengan tembangan beliau, seorang
teman bertanya apakah beliau memiliki benda pusaka, dan ternyata beliau
memilikinya kemudian dengan senang hati memperlihatkannya kepada kami. Beliau
kemudian memulai cerita tentang benda pusaka tersebut bahwa benda pusaka dahulu
sebagai perlengkapan laki-laki, Benda
pusaka yang beliau miliki tidak memiliki nama khusus tetapi dahulu disebut
tembius.
Benda pusaka
melambangkan 4 perkara
Pertama,
Bayan yang berarti bayangan atau cahaya dalam kitab bayanullah
Kedua,
sile parang yang kita tuntut atau cari
Yang
ketiga, pejanggik atau pujangga tukang tulis
Yang ke
empat pujut yaitu hasil ilmu tulis yang di nyatakan catur mandane
Setelah
perbincangan yang cukup panjang akhirnya adzan maghrib berkumandang sehingga
kami berpamitan untuk pulang.



Mantabbb. Bermanfaat sekali saudari 👍
BalasHapusKeren
BalasHapusSangat bermanfaat infonya
BalasHapusMantap 👍
BalasHapusGood mbak. Semangat terus berkarya
BalasHapusMantaaap Zaaaa💕💕💕
BalasHapusmantap
BalasHapusMost of which-Written Sentence Sequences-are truly touching deep inside down
BalasHapusmantaaaaaap very very very very nice
BalasHapusMantap, terus kembangkan yaaah tulisannya👍
BalasHapusMantap. Terus berkarya dk... 👍👍
BalasHapus