Perjalanan Pembuktian Budaya Nyeput dan Nyembek Suku Sasak
Assalamualaikum...
Kembali lagi di blog nya dedare sasak tentunya blog Haliza Eka Octaviani, kali ini aku akan menceritakan tentang perjalanan pembuktian budaya Nyeput dan Nyembek ala suku sasak, Pasti banyak kan yang bertanya apasih itu Nyembek dan Nyeput?
Nyeput itu biasanya di lakukan oleh orang-orang suku sasak untuk memperkuat keyakinan apa yang di nazar kan di dalam hatinya, nah melalui nyeput inilah petunjuk-petunjuk di berikan atas nazar tersebut. Sedangkan Nyembek biasanya di lakukan kalau bahasa sasaknya “ingsah” jadi ingsah ini agar anak bayi tidak rewel dan senang berada di rumah tersebut. Itu menurut kepercayaan dalam lingkunganku.
Baiklah langsung saja aku ceritakan perjalananku mencari seorang Pemaos dan pujangge untuk melakukan prosesi Nyeput dan Nyembek.
perjalanan pertama kami di mulai pada tgl 7 november 2019. Aku dan teman-teman melakukan perjalanan menuju kediaman Mamiq Lalu Putria yaitu seorang bangsawan datu siledendeng pemegang keris astagina penjaga alam. Kami banyak mendapatkan pelajaran sejarah suku sasak dan naskah kuno, sayangnya prosesi nyeput kami belum terlaksanan karena pemaos dan pujangge kemudiam persyaratan prosesi nyeput tersebut belum bisa terpenuhi. Akhirnya kami pulang dengan pelajaran yang sangat berharga.
Selanjutnya pada tgl 9 november 2019 aku bersama teman-teman melakukan perjalanan lagi ke sebuah desa yang lumayan jauh dari kota Mataram yakni desa Ameng yang berada di Marong Lombok Tengah tepatnya di kediaman mamiq Mujahidun Nafis. Perjalanan sampai kesana tidaklah mudah karena benar-benar baru pertama kali ke desa tersebut dan lumayan dalam masuk desa tersebut, banyak Emosi yang kami lontarkan sebelum sampai kesana, tetapi setelah sampai aku dan kawan-kawanku sungguh lega, disana Mamiq Nafis Menyambut kami dengan bangga karena anak muda seperti kami masih mau mendalami kebudayaan.
Mamiq Nafis memulai pembicaraan dengan memberikan kami kata pengantar sebelum melakukan prosesi. Kata pengantar yang beliau sampaikan beruapa tata cara Nyeput dan sejarah Nyeput lalu persiapan seperti Beras, telur, biji selingkur berupa uang, daun sirih, pinang, dan benang.
Setelah di jelaskan, kami akhirnya melakukan prosesi nyeput satu persatu dengan membaca surah Al-ikhlas 3x sebelum melakukan prosesi tersebut, giliran demi giliran hingga akhirnya sampailah pada giliran saya nyeput.
Saya mengikuti perintah membaca surah Al-ikhlas 3x sambil memegang tali naskah kuno tersebut, kemudian setelah itu saya mengambil 1 naskah kuno yang kemudian di tembangkan oleh pemaos nya yaitu mamiq Nafis. Naskah kuno yang saya dapatkan adalah naskah kuno Tembang Sinom yang berupa petuah dan nasihat. Kemudian sambilan mamiq nafis menembangkannya di selingi juga dengan di terjemahkan oleh Pujangge yaitu mamiq Najamudin dan penerjemah makna mamiq Mustawa.
3 makna yang saya tangkap dari hasil nyeput saya adalah
1. Beliau mengatakan bahwa aku ini telah sampai di pintu cita-cita yang di harapkan, hanya saja aku masih terhalang oleh sesuatu tetapi sesuatu itu sudah terlihat.
2. Ketika menginginkan sesuatu aku bisa dapatkan dengan sebuah ketulusan dan keikhlasan saja tanpa perantaraan, karena jika pakai perantaraan malah tidak akan dapat.
3. Prihal menemukan jodoh jangan memakai perantaraan orang, karena tanpa perantaraan aku akan dapatkan jodoh seperti keinginan, malah kalau memakai perantaraan orang tidak akan mendapatkannya. Itulah 3 hal intisari makna yang saya catat dari hasil nyeput saya.
Pendekatan yang cocok di gunakan untuk naskah tembang sinom adalah pendekatan Pragmatik, karena jelas menyampaikan sebuah makna yang sulit di pahami dari hasil nyeput kemudian di berikan pemaknaan kesimpulannya oleh pujanggan dan pemnerjemah makna tersebut.
Kerenn kak
BalasHapusSangat bermanfaat untu org yg blm mengetahui apa itu "nyeput"
BalasHapusSangat bermanfaat..dan menambah wawaasan tentang budaya di sekitar kita
BalasHapusTerimakasih informasinya, dengan informasi yang anda berikan saya lebih tau keberagaman budaya yang ada di Lombok.
BalasHapus